Pola Kalimat Pengandaian Bahasa Nias Dialek Selatan


Kalimat Pengandaian adalah suatu kalimat yang menunjukkan keinginan atau harapan yang pada faktanya belum tercapai atau terlaksana/mustahil terjadi . Pada umumnya, kalimat pengandaian selalu menggunakan kata "Jika, apabila, kalau, jikalau, andaikan, seandainya" dalam bahasa Indonesia. 

Sebagai contoh, seseorang berkata:"Jika kamu capai menulis, silakan istirahat sejenak." Berdasarkan contoh tersebut, pembicara memiliki keinginan terhadap pendengarnya untuk "beristirahat sejenak". Akan tetapi, pendengarnya yang sedang menulis tersebut belum tentu merasa capai dan ingin beristirahat. Orang yang sedang menulis tersebut mungkin saja tetap menulis hingga selesai. 

Dengan demikian, kalimat tersebut membuktikan bahwa keinginan pembicara terhadap pendengar (penulis) belum tercapai ketika dia (pembicara) berbicara kepada orang lain. Inilah yang dimaksud dengan kalimat pengandaian.

Demikian pula halnya dengan Bahasa Nias dialek selatan yang dikenal dengan Li Niha Raya. Dalam kaidah Li Niha Raya, terdapat aturan khusus dalam penyusunan suatu kalimat pengandaian supaya informasi yang disampaikan tidak membingungkan orang lain.

Untuk menyusun suatu kalimat pengandaian dalam Li Niha Raya, setidaknya beberapa hal mendasar yang penting untuk dipahami sebelum memahai lebih jauh tentang kalimat pengandaian ini, antara lain:

  1. KGO dalam Bahasa Nias Dialek Selatan
  2. Kata Kerja dalam Bahasa Nias Dialek Selatan
  3. Pola Kalimat Afirmatif dalam Bahasa Nias Dialek Selatan
  4. Pola Kalimat Interogatif dalam Bahasa Nias Dialek Selatan

Dalam Amakhoita Li Niha Raya (Tata Bahasa Nias Dialek Selatan) mengenal aturan kalimat yang menunjukkan waktu. Hal ini akan sangat berpengaruh pada Kata Ganti Orang (KGO) dan Kata Kerja yang akan digunakan dalam kalimatnya.

Dalam Li Niha Raya, terdapat tiga kelompok KGO yang menempati posisi subjek/pelaku dalam kalimat yang tidak dapat digunakan secara bersamaan dengan kalimat yang sama karena dapat menimbulkan perbedaan makna yang tersirat di dalamnya.

Dari ketiga kelompok tersebut, terdapat dua kelompok KGO sebagai subjek yang memiliki kriteria yang sama yaitu KGO untuk waktu sekarang dan waktu lampau. Akan tetapi KGO sebagai subjek untuk waktu yang akan datang tidak bisa digunakan pada kalimat yang menunjukkan waktu sekarang dan lampau karena hal itu dapat menimbulkan perbedaan makna atau penafsiran terhadap orang lain, bahkan mungkin tidak bisa dimengerti.

Peran KGO dalam Li Niha Raya sangat mendominasi setiap kalimat baik dari makna maupun variasi yang akan terjadi dalam kelas kata yang terdapat dalam suatu kalimatnya. Berikut kelompok KGO sebagai subjek dalam Li Niha Raya:

  • KGO-1 WAKTU SEKARANG
[a] subjek: U-, Õ-, La-, Mi, Ma-, Ta-, I-,
[b] subjek: Ndraoto, Ndraugö, Ndraga, Ita, Ira, Mi, Ya.

  • KGO-2 WAKTU LAMPAU
[a] subjek: U-, Õ-, La-, Mi, Ma-Ta-, I-,
[b] subjek: NdraotoNdraugöNdragaItaIraMiYa.

  • KGO-3 WAKTU AKAN DATANG
Subjek: Ga, Gi, Gu, , Ndra, Da, Ya.



KETERANGAN

 KGO1 KGO2 KGO3  TERJEMAHAN   
 U-/Ndraoto   U-/Ndraoto   Gu Saya
 Õ-/Ndraugö  Õ-/Ndraugö Gö Anda
 Ma-/Ndraga  Ma-/Ndraga Ga Kami
 Mi Mi Gi Kalian
 La-/Ira La-/Ira Ndra Mereka
 Ta-/Ita Ta-/Ita Da Kita
 I-/Ya I-/Ya Ya Dia



POLA KALIMAT PENGANDAIAN

Untuk menyusun kalimat pengandaian dalam Li Niha Raya, kata "NA" akan selalu digunakan dalam kalimatnya. "Na" memiliki terjemahan "Jika/apabila/seandainya" dalam bahasa Indonesia.
Penulis mengklasifikasikan kalimat pengandaian Li Niha Raya dalam 2 kategori, yaitu:

1. Kalimat Pengandaian yang belum terjadi masa sekarang. Kalimat ini menunjukkan ide dalam kalimat belum terlaksana hingga saat ini. 

Keterangan singkatan yang akan digunakan dalam pola:

  • Kw1 = Kalimat yang menunjukkan waktu sekarang,
  • Kw2 = Kalimat yang menunjukkan waktu lampau,
  • Kw3 = Kalimat yang menunjukkan waktu yang akan datang,
  • KP    = Kalimat perintah.

Pola1: Na + Kw1 + , + Kw3
Contoh:
  1. Na lasura jura ndre, gu tvumolo ira fefu dania (jika mereka menulis surat itu, saya akan membantu mereka semua nanti)
  2. Na taböji ya, ndra rumau ita dania (jika kita memukulnya, mereka akan menangkap kita nanti).
Pola2: Kw3 + Na + Kw1

Contoh:
  1. Gu tvumolo ira fefu dania na lasura jura ndre (saya akan membantu mereka semua nanti jika mereka menulis surat itu).
  2. Ndra rumau ita dania na taböji ya (mereka akan menangkap kita jika kita mememukulnya).

Pola3: Na + Kw1 + , + KP 
Contoh:

  1. Na olofo ya, be önia gowi ndre! (jika dia lapar, berikan dia ubi itu!)
  2. Na löna omasi ya, fajaŵa ya baero! (jika dia tidak suka, angkat dia keluar!)

Pola4: KP + Na + Kw1
Contoh:

  1. Be önia gowi ndre na olofo ya! (berikan dia ubi itu jika dia lapar!)
  2. Fajaŵa ya baero na löna omasi ya! (angkat dia keluar jika dia tidak suka!)

Pola5: Na + Kw2 + , + KP 
Contoh:
  1. Na ma olofo ya, be önia gowi ndre! (jika dia telah lapar, berikan dia ubi itu!)
  2. Na ma löna omasi ya, fajaŵa ya baero! (jika dia (memang) sudah tidak suka, angkat dia keluar!)

Pola6: KP + Na + Kw2
Contoh:
  1. Be önia gowi ndre na ma olofo ya! (berikan dia ubi itu jika telah dia lapar!)
  2. Fajaŵa ya baero na ma löna omasi ya! (angkat dia keluar jika dia sudah tidak suka!)

2. Kalimat pengandaian yang mustahil terjadi sekarang ini karena waktunya telah selesai di masa lampau.
Pola7: Na + Kw2 + , + Kw3 
Contoh:
  1. Na ma lasura jura ndre menewi, gu tumolo ira fefu  (seandainya mereka telah menulis surat itu kemarin, saya akan membantu mereka semua)
  2. Na ma taböji ya, ndra rumau ita (seandainya kita telah memukulnya, mereka akan menangkap kita).
Pola8: Kw3 + Na + Kw2
Contoh:
  1. Gu tvumolo ira fefu na ma lasura jura ndre menewi (saya akan membantu mereka semua seandainya mereka telah menulis surat itu kemarin).
  2. Ndra rumau ita na ma taböji ya (mereka akan menangkap kita seandainya kita telah mememukulnya).

Perhatikan penjelasan contoh kasus di pola 8:

    Pada [1], pola kalimatnya menggunakan pola yang menunjukkan waktu yang akan datang.
    Pada [2], terdapat penghubung kalimat pengandaian yaitu "na".
    Pada [3], terdapat kalimat yang disusun dengan pola yang menunjukkan waktu yang lampau.

    Dari kalimat "Ndra rumau ita na ma taböji ya" menunjukkan bahwa tindakan subjek dalam kalimat tidak terlaksana. Fakta yang bisa dibuktikan adalah bahwa subjek pada kalimat [1] belum melakukan tindakan terhadap objeknya dan demikian juga dengan kalimat [3] subjeknya belum melaksanakan tindakan terhadap objeknya. Artinya, pada kalimat [1], subjek tidak melakukan penangkapan dan kalimat [3] subjek juga tidak memukul seseorang seperti yang mereka maksud dalam kalimat itu.

    Demikian saja penjelasan sederhana tentang Pola Kalimat Pengandaian Li Niha Raya ini, semoga bermanfaat untuk pembaca.

    ***
    Ya'ahoŵu!

    No comments for "Pola Kalimat Pengandaian Bahasa Nias Dialek Selatan "

    Covid-19

    covid