Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kalimat Imperatif dalam Bahasa Nias Dialek Selatan


Kalimat Imperatif adalah suatu kalimat yang memberi perintah kepada pendengar atau pembaca untuk melaksanakan tindakan. Umumnya, kalimat imperatif ini dikenal dengan sebutan kalimat perintah di Indonesia dan dalam bahasa Nias dialek selatan dikenal dengan sebutan Li Fareta

Kalimat imperative ini secara garis besar bertujuan untuk memberikan informasi yang mengandung ide perintah tegas maupun halus dari pembicara / penulis. 

Akan tetapi, jika diperhatikan berdasarkan makna/tujuan yang tersirat di dalamnya, suatu kalimat imperatif bisa saja mencakup pemberian tugas, permintaan, harapan maupun larangan terhadap pendengar atau pembaca.



Jenis-Jenis Kalimat Imperatif Li Niha Raya

Secara struktural, kalimat imperatif terbagi dalam 2 kategori yaitu:
1. Imperatif Transitif. Kalimat Imperatif Transitif adalah kalimat yang menggunakan kata kerja transitif dalam kalimatnya.
2. Imperatif Intransitif. Kalimat Imperatif Intransitif adalah kalimat yang menggunakan kata kerja intransitif dalam kalimatnya.


IMPERATIF TRANSITIF
Secara semantik, kalimat imperatif transitif akan mengandung beberapa makna yang tersirat adalah pemberian tugas, izin, permintaan atau larangan.


  • Pemberian tugas biasanya ditandai dengan kalimat yang menggunakan kata kerja transitif di awal kalimat dan diakhiri dengan tanda seru [!], contoh:
  1. Beta mbwuku ndre gaõ! (Awaskan buku itu di situ!)
  2. Bokai golu hõ'õ! (Buka pintu itu)
  3. Sura dõimõ! (Tuliskan namamu!)
  4. Duhõ mbwawau! (Tutup mulutmu!)
  5. Leasi ya! (Pukuli dia!)
  6. Lafo mbwawania! (Tampar mukanya!)
  7. Dõli ya baero! (Seret dia keluar!)
  8. Õli vetolonia! (Beli pensilnya!)
  9. Be gefe luŵa! (Berikan uang sekarang!)
  10. Cili nemali ndre! (Lempari maling itu!)


  • Pemberian izin/permintaan biasanya ditandai dengan kalimat yang menggunakan kata kerja transitif di awal kalimat, tetapi tidak perlu diakhiri dengan tanda seru [!], contoh:
  1. Beta ŵa'e mbwuku ndre ( Tolong/silakan awaskan buku itu.)
  2. Bokai ŵa'e golu hõ'õ (Tolong/silakan buka pintu itu)
  3. Sura ŵa'e dõimõ (Silakan tuliskan namamu)
  4. Duhõ ŵa'e mbwawau (Tolong/silakan tutup mulutmu)
  5. Leasi ŵa'e ya (Tolong/silakan pukuli dia)
  6. Lafo ŵa'e mbwawania (Tolong/silakan tampar mukanya)
  7. Dõli ŵa'e ya baero (Tolong/silakan seret dia keluar)
  8. Õli ŵa'e vetolonia (Tolong/silakan beli pensilnya)
  9. Be ŵa'e gefe luŵa (Tolong/silakan berikan uang sekarang)
  10. Cili ŵa'e nemali ndre! (Tolong/silakan lempari maling itu)

  • Pemberian larangan biasanya ditandai dengan kalimat yang menggunakan "Bõi" (Jangan) atau "Tobai" (Dilarang) di awal kalimat dan langsung diikuti oleh kata kerja transitif serta diakhiri dengan tanda seru [!], contoh:
  1. Bõi beta mbwuku ndre gaõ! (Jangan awaskan buku itu di situ!)
  2. Bõi bokai golu hõ'õ! (Jangan buka pintu itu!)
  3. Bõi sura dõimõ! (Jangan tulis namamu!)
  4. Bõi duhõ mbwawau! (Jangan tutup mulutmu!)
  5. Bõi leasi ya! (Jangan  pukuli dia!)
  6. Bõi lafo mbwawania! (Jangan tampar mukanya!)
  7. Bõi dõli ya baero! (Jangan seret dia keluar!)
  8. Bõi õli vetolonia! (Jangan beli pensilnya!)
  9. Tobai manura sura ga! (Dilarang menulis surat di sini!)
  10. Tobai managõ! (Dilarang mencuri!)


IMPERATIF INTRANSITIF
Secara semantik, kalimat imperatif intransitif akan mengandung beberapa makna yang tersirat adalah pemberian tugas, izin, permintaan atau larangan.

  • Pemberian tugas biasanya ditandai dengan kalimat yang menggunakan kata kerja intransitif di awal kalimat dan diakhiri dengan tanda seru [!], contoh:

  1. Ofanõ! (Pergi!)
  2. Oloi! (Lari!)
  3. Aine! (Mari!)
  4. Anavuli! (Pulang!)
  5. Ae baka! (Masuk!)
  6. Ae baero! (Keluar!)
  7. Anunõ! (Bernyanyi!)
  8. Aege! (Senyum/tertawa!)
  9. E'e! (Menangis!)
  10. Ŵaö! (Katakan!)


  • Pemberian izin/permintaan biasanya ditandai dengan kalimat yang menggunakan kata kerja intransitif di awal kalimat, tetapi tidak perlu diakhiri dengan tanda seru [!], contoh:

  1. Ofanõ ŵa'e (Tolong/silakan pergi)
  2. Oloi ŵa'e (Tolong/silakan lari)
  3. Aine ŵa'e (Tolong/silakan datang ke sini)
  4. Anavuli ŵa'e (Tolong/silakan pulang)
  5. Ae baka ŵa'e (Tolong/silakan masuk)
  6. Ae baero ŵa'e (Tolong/silakan keluar)
  7. Anunõ ŵa'e (Tolong/silakan bernyanyi)
  8. Aege ŵa'e (Tolong/silakan senyum/tertawa)
  9. E'e ŵa'e (Tolong/silakan menangis)
  10. Ŵaõ ŵa'e (Tolong sampaikan/silakan katakan)

  • Pemberian larangan biasanya ditandai dengan kalimat yang menggunakan "Bõi" (Jangan) atau "Tobai" (Dilarang) di awal kalimat dan langsung diikuti oleh kata kerja intransitif serta diakhiri dengan tanda seru [!], contoh:
  1. Tobai mofanõ! (Dilarang pergi!)
  2. Tobai  moloi! (Dilarang lari!)
  3. Tobai mõi ga! (Dilarang ke sini!)
  4. Tobai manavuli! (Dilarang pulang!)
  5. Tobai mõi baka! (Dilarang masuk!)
  6. Tobai mõi baero! (Dilarang keluar!)
  7. Tobai  manunõ! (Dilarang bernyanyi!)
  8. Bõi aege! (Jangan senyum/tertawa!)
  9. Bõi e'e! (Jangan menangis!)
  10. Bõi ŵaõ! (Jangan katakan!)

Demikian saja penjelasan sederhana tentang Kalimat Imperatif dalam Bahasa Nias dialek selatan atau yang lebih dikenal dengan Li Fareta Ba Li Niha Raya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk pembaca.

2 comments for "Kalimat Imperatif dalam Bahasa Nias Dialek Selatan"

  1. mantap, ulasannya lengkap ya. bisa lebih banyak belajar tentang bahasa nias di sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak, bg Andi. Salam HUT KEMRI ke 74 hari ini. Merdeka!

      Delete

Berlangganan via Email