Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fakta tentang Pria Nias yang Wajib Kamu Tahu

Fakta unik lelaki Nias

Fakta tentang Pria Nias yang diulas di halaman ini merupakan fenomena umum yang dipelajari dan dirangkum berdasarkan kultur/ tradisi kehidupan sosialnya.


Ulasan ini tidak bertujuan untuk menciptakan perbedaan pandangan terhadap pria dan wanita khususnya masyarakat ono niha, melainkan sebagai pengetahuan umum yang dianggap bermanfaat dan etis. 

Sesuai dengan tradisi dan perkembangan kehidupan sosial Nias, beberapa fakta umum tentang pria yang wajib kamu ketahui:

1. Pria dianggap sebagai penerus silsilah keluarga


Sesuai dengan sistem kekerabatan masyarakat Nias, garis keturunan Patrilineal adalah sistem yang dianut. Dalam garis keturunan Patrilineal,  hubungan kekerabatan dihitung berdasarkan garis ayah (pria) dalam suatu keluarga. 

Hal ini sangat jelas bila seorang pria menikah dan memiliki anak, marga ayah akan menjadi marga untuk semua anak-anaknya (termasuk putrinya). 

Dengan marga, generasi menjadi lebih mudah diidentifikasi berdasarkan garis keturunan keluarganya.

Meskipun demikian, garis keturunan dari keluarga wanita (Ibu) juga dihormati bersama tanpa harus menunjukkan perbedaan. 

Dalam tradisi orang Nias, anak yang tidak menghormati ayah dan ibunya beserta keluarga besarnya dianggap ono sitefuyu. Artinya, anak yang sesat / dianggap durhaka.

Inilah salah satu alasan mengapa pria dianggap sebagai penerus silsilah keluarga melalui cara pandang sosial Nias.

2. Pria Nias menikahi pasangan untuk seumur hidup


Bukan rahasia lagi jika Pria Nias memiliki tradisi positif terkait dengan pasang hidup. Mereka yang hendak membangun keluarga baru akan memilih pasangan hidup yang dapat mendukungnya baik dalam suka maupun dalam duka. 

Setiap pria yang menikahi seorang gadis, mereka akan selalu bersama hingga akhir hayat. Hal ini populer dengan istilah "Ha fa'amate zi tola mamabali". Artinya, hanyalah maut yang dapat memisahkan.

Sesuai dengan adat istiadat Nias, poligami dianggap tidak etis. Meskipun ada yang melakukannya, namun jumlahnya sangat sedikit bahkan mereka dapat dihitung dengan jari.

Orang yang menikahi dua atau lebih pasangan hidup akan memperburuk citranya sendiri di lingkungan sosial. Pernikahan kedua kalinya atau seterusnya hanya dianggap layak apabila telah bercerai atau pasangannya telah meninggal dunia.

Dengan demikian, selagi pasangan tetap bersamanya, mereka akan menjalani hidup hingga tutup usia.


3. Pria dianggap tangguh dalam pertarungan


Pria yang dianggap tangguh dalam pertarungan maupun pertempuran merupakan tradisi yang lahir dari leluhur Nias. Hal ini tidak berarti perempuan Nias direndahkan kualitasnya. 

Akan tetapi, sejak zaman dahulu para nenek moyang Nias selalu mengedepankan pria sebagai petarung maupun pasukan di medan perang. Meskipun demikian, di masa penjajahan wanita juga telah mengambil bagian dalam pertempuran yang khususnya terjadi di Pulau Nias.

Jika datang ke Pulau Nias, salah satu media latihan yang selalu digunakan oleh nenek moyang ono niha yaitu Hombo Batu (lompat batu). Hombo batu adalah media tradisional dalam melatih ketangkasan melompati rintangan yang berketinggian dua meter. 

Selain itu, latihan bela diri juga termasuk latihan yang mereka tekuni. Setiap pria diwajibkan mengetahuinya.

Meskipun demikian, sesuai dengan perkembangan kehidupan sosial Nias yang sekarang ini tidak lagi terfokus pada peperangan. Tidak ada lagi orang yang perlu dianggap musuh. Mereka adalah saudara, kerabat dari mana pun asal-usulnya. 

Perbedaan suku, agama, ras atau golongan bukanlah alasan untuk bermusuhan lagi.


4. Pria merupakan ahli waris harta keluarga


Umumnya, tradisi Nias cenderung menguntungkan pria dibanding wanita dalam aspek warisan keluarga. Pembagian harta yang dilakukan biasanya ditujukan kepada anak laki-laki saja dalam suatu keluarga.

Sedangkan wanita dianggap akan mendapatkan warisan dari keluarga suaminya sehingga keberuntungan anak perempuan seakan tidak dihiraukan. 

Tradisi ini masih cenderung terjadi hingga saat ini, meskipun sudah mulai ada tradisi keluarga modern yang membagikan warisan untuk semua anak-anaknya tanpa membedakan gender.


5. Pria sebagai penafkah utama keluarga


Dalam tradisi orang Nias, pria bertanggung jawab atas nafkah keluarganya terlebih jika telah menikah. Setiap pria yang telah menikah dan memiliki keluarga baru harus mampu bertanggungjawab atas kelangsungan kehidupan keluarganya baik istri maupun anak-anaknya.

Jika pria tidak mau bekerja dan berharap istri sebagai tulang punggung keluarga saja karena alasan malas, maka hal itu akan cenderung dianggap aneh.

Dengan tradisi inilah, tak jarang pria Nias selalu berjuang untuk memperbaiki kualitas hidup, memperbaiki nasib keluarga dan lainnya dengan cara bekerja keras. 

Gengsi ada tempatnya



Penutup

Fakta tentang Pria Nias ini diulas sesuai dengan realita kehidupan masyarakat Ono Niha tanpa mempertentangkan segala aspek individual. Selain itu, ulasan ini tidak dibuat dengan hiperbola sebagai upaya menarik minat anda membaca.

Segala kekurangan, mohon dikoreksi. Terima kasih telah membaca.
Semoga bermanfaat untuk anda.

2 comments for "Fakta tentang Pria Nias yang Wajib Kamu Tahu"

Berlangganan via Email