Muslim di Nias

Jika Nias umumnya dikenal dengan penduduk mayoritas adalah nasrani / kristiani, hal tersebut tidak menyiratkan bahwa Muslim tidak ada di bumi Nias. Penduduk Nias yang beragama islam juga berada di beberapa daerah di Pulau Nias. Dalam bahasa Nias, pemeluk agama islam disebut Ndrawa yang artinya adalah Muslim.


Teuku Polem dan Islam di Nias

Berdasarkan tradisi lisan, agama islam di Nias berawal dari pernikahan Teuku Polem, seorang etnis Aceh, kepada seorang Putri Nias yang bernama Bowo'ana'a Harefa. Bowo'ana'a Harefa adalah seorang anak perempuan dari Balugu Harimao. 

Dengan pernikahan tersebut, Putri Nias ikut memeluk agama islam dan tercatat sebagai orang Nias pertama yang menjadi Muslimah.

Kedua pasangan itupun tinggal menetap di Pulau Nias hingga memiliki generasi berikutnya. Generasi pertama dari pasangan ini identik dengan marga Polem dan Aceh. Pemberian marga tersebut merupakan cara mereka untuk mengetahui perkembangan silsilah mereka di Pulau Nias.

Selain Aceh, perkembangan penganut agama islam di Nias juga didukung oleh para etnis Padang yang datang berdagang di pulau tersebut. Seiring berjalannya waktu, para muslim di Nias mendirikan tempat-tempat ibadah mereka sendiri di berbagai daerah dan jumlah umatnya pun bertambah. Salah satu contoh tempat ibadah muslim di Nias seperti pada gambar berikut ini:

Masjid Raya Al-Furqan di Kota Gunungsitoli

Daerah-daerah yang dihuni oleh etnis muslim di Nias, antara lain:

  1. Kota Gunungsitoli: Pusat kota, mudik, kampung baru, jalan kelapa, landatar, tohia, miga, saombo, moawo, dll.
  2. Gunungsitoli Utara: Bouso, Olora, afia, dll.
  3. Nias Utara: Lahewa dan sekitarnya
  4. Nias Barat: Sirombu, Hinako
  5. Kabupaten Nias: Simanaere, Gido dan sekitarnya
  6. Nias Selatan: Kota Telukdalam dan sekitarnya.



Toleransi beragama di Nias

Jika banyak daerah yang mempersulit pendirian bangunan tempat ibadah di wilayah Indonesia, hal itu berbanding terbalik dengan Nias. Tingkat kesadaran akan indahnya persaudaraan di kalangan orang Nias telah terjalin begitu lama. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberagaman di dalamnya yang tidak pernah menuai pertikaian khususnya dalam hal keagamaan.

Berabad-abad lamanya Pulau Nias dihuni oleh berbagai suku dengan sistem kepercayaan yang berbeda, tetapi belum pernah tercatat sebagai daerah yang suka menghakimi masyarakat minoritas. Bagi orang Nias, setiap orang yang hidup berdampingan adalah keluarga besar dan tak seorang pun diperbolehkan untuk menghakimi keberagaman.

Kaum Muslim di Nias memiliki hak yang sama dengan yang lainnya dalam menjalankan ibadahnya kepada Tuhannya. 


Kesimpulan

Keberagaman hidup yang hadir di Pulau Nias adalah keunikan tersendiri dan merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Hidup dengan agama yang berbeda di Pulau Nias selalu penuh kedamaian. Semua orang memiliki hak yang sama sebagai warga negara dan saling menghormati.

Muslim di Nias tidak pernah diperlakukan tidak terhormat karena mereka juga adalah keluarga besar ono niha. Segala batasan yang tidak diperbolehkan dalam ajaran islam selalu dijunjung tinggi oleh kaum non-muslim di Nias; demikian pula sebaliknya.

Sekian.
Terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat. Jika terdapat kekurangan dalam ulasan ini, silakan sampaikan di kolom komentar di bawah.


Sumber foto: indoplaces.com

4 Responses to "Muslim di Nias"

  1. Keren.
    Semangat toleransi dan pluralitasnya di Nias ternyata tinggi, ya, kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, kak Mahfud. Kita semua bersaudara. Semoga di daerah lain juga selalu demikian.

      Delete
    2. Amin. Semoga kelak keberagamaan di Madura bisa seperti di Nias.

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel