Hilinawalö Fau

Hilinawalõ Fau, Nias Selatan

Hilinawalõ Fau merupakan salah satu desa yang berdiri sejak ribuan tahun yang lalu dan termasuk situs budaya megalitikum yang terletak di wilayah kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan.

Desa Hilinawalõ Fau berdampingan dengan desa Ono Hondrõ di sebelah selatan dan desa Bawõgosali di sebelah barat laut.

Selain itu, Hilinawalõ Fau mengalami pemekaran wilayah dengan nama desa mekaran barunya adalah Etebatu. 

Jadi, di daerah tersebut terdapat satu desa induk yaitu Hilinawalõ Fau dan satu desa mekaran yaitu Etebatu. Meskipun demikian, kebanyakan orang-orang mengenal desa dimaksud dengan nama desa induknya saja.

Penduduk desa tersebut berkisar ribuan jiwa pada tahun 2019. Struktur bangunan di desanya pun sangat rapi. Tidak jauh berbeda dengan Bawõmataluo, Hilinawalõ Fau juga memiliki keunikkan tersendiri baik dari segi sejarah maupun seni budayanya.

Sebelum menjadi destinasi wisata, dulunya merupakan salah satu desa yang dipimpin oleh seorang bangsawan atau raja. Orang pertama yang menjadi raja di Hilinawalõ Fau adalah seorang bangsawan yang bermarga "Bu'ulõlõ".

Oleh karena itu, penduduk Hilinawalõ Fau mayoritas bermarga Bu'ulõlõ.

Di pusat desa tempat sang rajanya tinggal terdapat bebatuan megalit yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Di halaman rumah tradisional rajanya terdapat "Ewali Gorahua" arti literalnya adalah Halaman Pertemuan.

Ewali Gorahua difungsikan sebagai tempat untuk mengadakan acara adat maupun pertemuan antar masyarakat desa.

Sejak tahun 1980-an, desa ini menjadi salah satu destinasi wisata paling banyak dikunjungi oleh wisatawan asing baik dari Eropa, Amerika maupun Australia. Bahkan, di desa Hilinawalõ Fau dulunya terdapat "Homestay" khusus untuk para wisatawan mancanegara yang menginap. 

Pada masa itu, akses jalan raya masih sangat memprihatinkan dimana para wisatawan yang berkunjung wajib berjalan kaki sekitar 6km dari tempat pemberhentian kendaraan umum. Akan tetapi, hal itu tidak mengurangi minat kunjungan mereka. 

Desa ini termasuk salah satu desa paling aman untuk dikunjungi wisatawan. Faktanya, tidak hanya pria tetapi wanita sekalipun tanpa pemandu lokal bebas melakukan perjalanan (adventuring) dengan selamat.

Sekarang ini, desa ini masih tetap melestarian seni budaya Nias baik dari seni tari, adat istiadat maupun pariwisatanya. Selain itu, akses jalan raya sudah dapat diakses dengan kendaraan roda empat hingga ke lokasi. 

Di lokasi ini, beberapa hal yang paling diminati oleh wisatawan mancanegara hingga rela menghabiskan waktu libur dengan cara menginap di desa tersebut, antara lain:


[1] Tarian Tradisional

Pameran Budaya Nias melalui seni tari tradisional masih dipertahankan oleh masyarakat lokal di desa ini, seperti pameran tari Maluaya atau sering disebut dengan tari Baluse (tari perang), mogaele dan tari lainnya. 

Pameran tersebut sering dilaksanakan pada kegiatan atau acara penyambutan tamu istimewa, acara adat maupun pagelaran seni. Tidak kalah menarik dengan wilayah lainnya, pelaku kegiatan seni di desa ini juga sangat terampil dalam aksinya.

[2] Hombo Batu 

Hombo Batu (lompat batu) adalah salah satu atraksi yang sering dipamerkan kepada wisatawan asing yang berkunjung ke Hilinawalõ Fau. Pelaku Hombo Batu hanya dilakukan dan disarankan kepada orang-orang yang profesional saja. Akan tetapi, setiap wisatawan dapat menyaksikan atraksi ini dengan cara mengonfirmasi kepada warga setempat.


Lompat Batu
Lompat Batu


[3] Rumah Tradisional

Selain dari kegiatan seni, rumah tradisional khas Nias juga merupakan salah satu penarik minat wisatawan. Rumah Tradisional di desa ini masih digunakan sebagai pemukiman warga desanya. Dari deretan perumahan tradisionalnya terdapat satu rumah tradisional yang lebih besar dan itu adalah tempat sang raja dulu. Rumah untuk raja ini dikenal dengan sebutan khusus yaitu "Omo Sebua".

Omo hada hilinawalo Fau
Omo Sebua


[4] Air Terjun

Di desa ini juga terdapat lokasi (spot) air terjun yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing yaitu Jumali. Jumali berada di perbatasan desa Ono Hondro dengan Hilinawalo Fau. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 15 meter dari permukaan tanah.

Airnya yang sejuk, bersih dan masih alami ini tentunya menjadi pilihan wisatawan yang suka menyejukkan diri dengan air alam.

Lokasi air terjunnya berkisar 1 km dari pusat desa Hilinawalo Fau.




[5] Masyarakat Desa

Selain dari keunikan situs dan budayanya, ternyata masyarakat di desa tersebut juga memiliki kebiasaan saling menghormati, gotong-royong dan mudah bergaul. 

Hal tersebut menjadi dasar mengapa wisatawan asing bisa betah tinggal di desa tersebut. Dimana pun anda bertemu dengan orang-orang dari desa ini, mereka tidak akan melakukan tindakan yang tidak baik kepada anda meskipun belum kenal. 

Mereka biasanya tersenyum dan suka menyapa wisatawan asing (turis dari negara lain) dengan kata Ya'ahowu. 

Meskipun desa ini tergolong salah satu situs budaya yang dijadikan destinasi wisata, mata pencaharian utama masyarakatnya adalah bertani, berwira usaha dan bekerja di instansi pemerintahan maupun swasta. 


Itulah sekadar informasi tentang Hilinawalõ Fau yang mungkin dapat anda jadikan sebagai salah satu tujuan wisata anda di Pulau Nias di kemudian hari. Anda dapat berkunjung dengan tujuan wisata maupun penelitian. 

Oleh karena itu, jika anda ingin mengunjungi lokasinya, anda dapat mengakses peta lokasinya terlebih dahulu melalui akses Google. Silakan gunakan peta di bawah ini. Tidak disarankan menggunakan peta yang sebelumnya ada di Google Map karena lokasinya tidak teridentifikasi dengan tepat. 



Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda. Terimakasih telah singgah membaca. Ya'ahowu!


No comments for "Hilinawalö Fau"

Covid-19

covid