Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Bebatuan Megalit Nias

Darodaro Saonigeho dari Bawömataluo


Dikutip dari berbagai sumber terpercaya, sejarah budaya megalitikum suku Nias merupakan suatu cara hidup masyarakat suku Nias pada zaman dahulu yang menggunakan bebatuan megalit sebagai lambang kekuasaan maupun sebagai kekhasan suatu daerah yang memiliki penguasa tertinggi.

Pada zaman dahulu, tradisi penempatan bebatuan megalit di suatu desa yang terdapat di Pulau Nias merupakan kekhasan tersendiri yang mereka miliki.  Tradisi tersebut berlangsung lama dalam kehidupan suku Nias.

Penempatan batu megalit yang berukuran besar merupakan salah satu tradisi suku Nias masa lampau untuk mengenang serta menghormati jasa dari para leluhurnya yang merupakan pejuang, penguasa atau orang-orang yang telah berbakti kepada masyarakat Nias.

Seperti halnya Darodaro Saonigeho yang diukir dan dibawa ke desa Bawömataluo. Saonigeho merupakan seorang penjuang Nias yang berasal dari desa Bawömataluo masa itu. Sekarang ini, darodaro (tempat duduk) ini masih dapat ditemukan di halaman rumah adat desa Bawomataluo, Nias Selatan.

Bawömataluo 



BATU MEGALIT

Pada zaman dulu, pencarian batu megalit (batu berukuran besar) membutuhkan upaya yang cukup keras. Pasalnya, bebatuan yang dicari bukan hanya bebatuan yang ukurannya besar tetapi juga memiliki ketahanan dalam jangka waktu lama.

Bebatuan megalit yang ditemukan dari suatu tempat, biasanya akan diukir terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke desa mereka. Hal tersebut membutuhkan kerja keras dari orang-orang yang diberikan wewenang untuk mengukirnya.

Pengukiran bebatuan pun disesuaikan dengan kegunaannya.

Dalam kehidupan masa lampau masyarakat Nias, pengukiran dilakukan secara tradisional dan tidak menggunakan peralatan modern seperti sekarang ini. Para pengukir biasanya hanya bermodal peralatan pahat, martil dan kapak.

Dengan peralatan yang sangat tradisional tersebut, pengukiran masih dapat dilakukan dengan hasil yang maksimal meskipun membutuhkan waktu dan jumlah pengukir yang banyak. Uniknya, hasil ukiran mereka terlihat seperti hasil ukiran yang menggunakan berbagai jenis peralatan modern.

Selain itu, ternyata pada masa lampau, penemuan bebatuan megalit di suatu tempat terkadang menuai perselisihan, bahkan perebutan kepemilikan bebatuan megalit sering berujung peperangan antar desa.



PEREBUTAN KEPEMILIKAN BEBATUAN

Perebutan kepemilikan bebatuan megalit masa lampau sering mendatangkan musibah bagi sekelompok masyarakat Nias. Terlebih, jika orang-orang yang ingin menggunakannya berasal dari desa lain.

Dalam memperebutkan suatu bebatuan megalit, tidak jarang perselisihan atau peperangan terjadi. Alasannya, pada zaman megalitikum, penggunaan bebatuan besar dipercayai bahwa hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk menunjukkan kekuasaan suatu daerah/ desa. Tentunya, hal ini dapat memicu perebutan di kalangan masyarakat.

Jika perebutan terjadi, perang pun bisa terjadi.

Sesuai dengan kisah perebutan bebatuan megalit tersebut, perang yang terjadi antar desa atau kampung sering menelan korban.

Dalam tradisi megalitikum, peperangan tidak akan usai sebelum salah satu pihak menyerah atau dinyatakan kalah. Para korban yang kalah, terkadang digunakan sebagai Binu. Pengambilan Binu manusia merupakan salah satu tradisi suku Nias yang dianggap layak pada masa lampau.

Binu dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah tengkorak manusia. Pengambilan Binu sangat terkenal di kalangan suku Nias yang masih mengingat sejarah para leluhurnya.

Binu yang mereka ambil biasanya akan dikubur di tempat-tempat tertentu dan dipercayai dapat memberikan kekokohan suatu bangunan atau tempat. Kisah tragis ini bukanlah mitos tetapi fakta.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Pada masa lampau, suku Nias masih berada dalam suasana kehidupan yang cukup sulit dan tidak adanya kepercayaan bahwa mengambil Binu adalah suatu tindakan yang terlarang dalam agama.

Meskipun demikian, sekarang ini tradisi pengambilan Binu di Nias telah dihilangkan atau tidak lakukan lagi setelah suku Nias mengenal agama yang dibawa oleh para missionaris.



PENEMPATAN BEBATUAN MEGALIT

Pada masa lampau, penempatan bebatuan megalit di suatu desa adalah suatu tradisi para leluhur Nias. Tradisi tersebut dipercayai dapat memberikan kekhasan dan kehormatan tersendiri dalam melambangkan kekuasaan.

Oleh karena itu, tidak jarang desa tradisional di Pulau Nias memiliki berbagai jenis bebatuan megalit yang di letakkan di halaman rumah adat (tradisional) atau di dalam suatu desa.

Bebatuan megalit yang memiliki ukuran terbesar biasanya ditempatkan di depan rumah sang raja suatu desa. Hal tersebut menandakan bahwa orang yang di halaman rumahnya terdapat bebatuan besar adalah penguasa tertinggi di desa tersebut.

Selain itu, pada zaman megalitikum, sebelum mengenal agama, bebatuan juga merupakan salah satu cara untuk melakukan penyembahan terhadap roh leluhur dan dipercayai dapat mendatangkan rezeki maupun kemakmuran hidup.

Dengan kepercayaan tersebut, tidak jarang orang Nias pada masa lampau membuat bebatuan megalit yang menyerupai wajah atau bentuk tubuh manusia. Sekarang ini dikenal sebagi Adu (patung) yang terbuat dari bebatuan megalit maupun dari kayu.


LOKASI BEBATUAN MEGALIT DI PULAU NIAS

Lokasi yang merupakan bukti sejarah megalitikum Nias terdapat di berbagai daerah di Pulau Nias, antara lain:

  1. Desa Bawömataluo,
  2. Hilinawalö Fau,
  3. Gomo,
  4. Lahusa Satua, dll.


Beberapa lokasi tersebut telah dijadikan sebagai tempat wisata untuk melihat bebatuan megalit atau budaya lainnya yang masih dilestarikan di daerah tersebut. Tidak jarang para peneliti / arkeolog baik dalam negeri maupun luar negeri mengunjungi tempat-tempat bersejarah tersebut untuk melakukan penelitian.






KESIMPULAN

Dari uraian di atas, jelas bahwa pada zaman megalitikum, orang Nias sering menggunakan bebatuan sebagai salah satu cara mereka untuk menunjukkan eksistensi kekuasaan suatu daerah, sebagai tempat untuk melakukan ritual roh leluhur sebelum agama masuk ke Pulau Nias.

Meskipun demikian, perubahan besar telah terjadi sejak pembawa injil masuk ke Pulau Nias.

Ritual kepada roh leluhur dan berbagai tindakan tragis yang pernah menjadi tradisi telah ditinggalkan hingga sekarang ini.

Semua bebatuan megalit yang masih ditemukan di berbagai daerah di Pulau Nias sekarang ini  menjadi bukti nyata bahwa adanya masa megalitikum di Pulau Nias dan kebanyakan tempat tersebut sekarang ini dijadikan sebagai tempat wisata.

Demikian sekilas tentang sejarah bebatuan megalit Nias, semoga artikel ini dapat menambah pemahaman pembaca.


Sumber foto:
1. Darodaro Saonigeho:Tropenmuseum, Amsterdam sekitar tahun 1915.
2. Bawömataluo : Nakatani Norihito ,an archaeologist from Tokyo, Japan




Post a Comment for "Sejarah Bebatuan Megalit Nias"

Berlangganan via Email