Nias Tempo Dulu: Pendidikan Anak Perempuan Dinomorduakan

Orang Nias yang dikenal dengan sebutan "Ono Niha" adalah masyarakat yang bangga hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Orang Nias berasal dari kepulauan di sebelah barat pulau Sumatera, Indonesia.

Meskipun Nias terdapat di beberapa pulau kecil yang terpisah, kepulauan tersebut hanya dinamakan Pulau Nias secara umumnya. Seperti Pulau Telo, Hinako, Hibala, Bawa dan beberapa pulau kecil lainnya, kepulauan tersebut juga termasuk Pulau Nias.

Selain itu, masyarakat yang tinggal menetap di pulau Nias memiliki cara hidup tersendiri yang merupakan bagian dari tradisi para leluhurnya. Tradisi-tradisi yang mereka miliki sejak tempo dulu adalah bagian dari pengetahuan mereka dalam menjalankan hidup di alam semesta ini.

Terdapat banyak kisah kehidupan mereka yang cukup sulit dijalani, terlebih pada masa penjajahan yang berlangsung lama di Pulau Nias.

Pada masa penjajahan Belanda, Pulau Nias efektif dijajah secara keseluruhan pada tahun 1864 dimana puluhan tahun sebelumnya masyarakat Nias selalu melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Penjajahan Belanda atas Nias berlangsung lama, namun menyerah dan mengakhiri penjajahannya pada tahun 1942 yang secara langsung dikendalikan oleh Jepang.

Singkatnya, penjajahan Jepang yang dikenal tragis di Nias atau di Indonesia secara keseluruhan berakhir pada tahun 1945 sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia menyatakan kemerdekaan dalam tahun yang sama.

Berdasarkan kenyataan hidup masyarakat Nias tempo dulu, efek trauma pun masih membentuk pola pikir mereka untuk mewaspadai musuh di kemudian hari.

Pada rentang masa itu, Nias dikenal sebagai salah satu suku yang tidak segan melakukan tindakan tegas kepada siapapun yang berniat melukai atau menjahati komunitasnya.

Pada masa itu, mereka cenderung lebih mengandalkan kekuatan kaum pria dibandingkan dengan wanita. Hal tersebut tidak berarti bahwa wanita Nias direndahkan derajatnya. Akan tetapi, wanita adalah kaum yang sangat dilindungi oleh para leluhurnya sehingga dulunya wanita Nias tidak diizinkan sembarang keluar rumah apalagi bersama dengan orang lain yang tidak dikenal.

Tradisi mereka yang dulu menciptakan sudut pandang masyarakat Nias yang terlalu protektif terhadap anak-anak perempuan mereka di dalam keluarga.

Biasanya, hanyalah kaum pria yang mendapat kebebasan untuk dapat melakukan aktivitas di luar rumah. Sedangkan wanita biasanya hanya diizinkan untuk melaksanakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci piring dan lainnya. Tradisi kehidupan tersebut selalu terbawa dan berlangsung lama.

Pengaruh dari cara hidup masa lampau membuat para generasi Nias berikutnya (pada masa itu) kurang memperhatikan kebutuhan pendidikan terhadap anak perempuannya, terutama pendidikan formal  sekolahan.

Jika dipandang sepihak, seakan-akan pria lah yang mendapat kesempatan baik dalam bangku pendidikan pada masa itu.

Terlebih jika lokasi sekolahnya berada lebih jauh dari permukiman mereka. Para orang tua anak perempuan tidak akan membiarkan anak perempuannya pergi sendirian atau bersama temannya sebelum mereka dapat memastikan bahwa situasi atau keadaan wilayah mereka aman.


Itu lah sebabnya pendidikan anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-lakinya seakan dinomorduakan oleh orang Nias zaman dahulu.



Pendidikan Anak Perempuan Nias Masa Sekarang

Bertolak dari masa lampau, tradisi kehidupan yang dianggap kurang bermanfaat untuk kaum perempuan telah mendapat perubahan yang menjadi bagian kehidupan baru untuk ono niha pada masa sekarang ini. Anak perempuan maupun pria mendapat kesempatan yang sama dalam menuntut ilmu pendidikan yang formal.

Hal ini membuat perkembangan kehidupan pendidikan di Nias berkembang pesat dibandingkan tempo dulu. Meskipun orang Nias masih kebanyakan hidup bertani, orang tua masa sekarang selalu berjuang dan memotivasi anak-anaknya untuk tetap bersekolah demi menggapai cita-cita yang dimimpikan oleh anak mereka.

Tempat pendidikan pun berkembang di kepulauan Nias yang dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah sekolah mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi sebagai prasarana belajar yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta.

Hidup di zaman sekarang ini, anak perempuan Nias selalu mengambil bagian dalam meraih cita melalui jalur pendidikan formal. Semua hal ini tentunya tidak terlepas dari kepedulian para pemerintah di Indonesia yang selalu memberikan fasilitas terbaik demi mewujudkan anak bangsanya yang cerdas.
Anak Perempuan Nias di Lingkungan Pendidikan Formal; Foto dilisensikan oleh: Node E. Marunduri (kiri) dan C. Cahyani  Harefa (kanan) sebagai properti criss-jp.com pada 14 Juni, 2019.


Kesimpulan
Tradisi leluhur mengandung nilai positif maupun sebaliknya. Namun, pendidikan dapat mengubah segalanya menjadi lebih baik. Wanita adalah kaum yang sangat dilindungi dan juga dihormati oleh Ono Niha sejak dahulu, sekarang dan seterusnya.

Perubahan hidup dari tradisi lama, anak perempuan Nias yang sekarang ini tidak hanya belajar di lingkungan pendidikan yang ada di Nias, banyak dari ono niha yang mendapat kesempatan belajar di luar pulau Nias, bahkan di luar negeri.

Sekarang ini, di setiap desa, di Pulau Nias khususnya, anak perempuan rata-rata telah bersekolah. Meskipun ada yang masih hidup dan tinggal di pedalaman (akses jalan raya belum bagus), keadaan demikian tidak membatasi perjuangan mereka untuk menggapai pendidikan yang lebih layak.

D.F. Yamesia Zebua

Sekian dan terima kasih telah membaca artikel ini.

***
Ya'ahowu!

4 komentar untuk "Nias Tempo Dulu: Pendidikan Anak Perempuan Dinomorduakan"

Comment Author Avatar
Artikel'a menarik bro,,, smga makin sukses
Comment Author Avatar
Terima kasih banyak, pak Mendrofa.
Comment Author Avatar
Ulasannya menarik, makasih atas infonya
Comment Author Avatar
Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya, pak Faisal. Semoga harimu menyenangkan.