Kata 'Bale' Sering Dituturkan Orang Nias dalam Percakapan




Berkomunikasi adalah salah satu cara yang dilakukan manusia untuk memberlangsungkan kehidupan di bumi; dengan berkomunikasi manusia tentunya menggunakan bahasa dalam menyampaikan pesan, seperti halnya bahasa daerah Nias yang juga merupakan alat komunikasi yang digunakan sejak dulu kala di pulau Nias.

Berbicara tentang bahasa Nias atau Li Niha, tentunya banyak hal menarik dan unik yang layak dipelajari di dalamnya.

Bahasa Nias dengan dialek Gunungsitoli merupakan bahasa Nias yang cukup mudah dimengerti oleh penutur Li Niha di wilayah barat, tengah dan utara. Akan tetapi, tidak demikian dengan dialek Nias selatan; jelasnya daerah Telukdalam dan sekitarnya yang sedikit jauh perbedaannya meskipun masih dalam satu bahasa.

Perbedaan tersebut terkadang membuat kedua penutur dialek berbeda merasa sulit untuk memahami makna ucapan satu sama lain.

Namun demikian, bahasa Nias yang memiliki ragam dialek unik adalah kekayaan Bahasa Nias sendiri. Seperti halnya di dalam percakapan sehari hari, kebanyakan orang Nias menggunakan kata 'bale' dan 'wö'  khususnya yang berdialek Gunungsitoli.

Kata tersebut tentunya sangat asing bagi orang-orang yang tidak pernah mendengar dan memahami artinya. Kata 'bale' tergolong kelas kata tugas dalam bahasa Indonesia yang lebih terkhusus pada partikel. Partikel 'bale' dan 'wö' tidak dimuat dalam kalimat formal Li Niha, meskipun demikian perlu dipelajari karena partikel merupakan bagian dari Tata Bahasa.

Pengertian partikel yang penulis maksudkan dalam artikel ini adalah bagian dari tata bahasa yang mana unit/ kata tersebut hanya bisa berarti secara gramatikal atau jika dimasukkan ke dalam kalimat. Jika berdiri sendiri, kata tersebut tidak dapat menimbulkan makna kata yang tepat, bahkan susah untuk dimengerti. Seperti halnya dalam bahasa Indonesia, partikel adalah bagian dari kata tugas yang selalu membutuhkan kata atau unsur lain yang menyertainya. 

Menurut Kridalaksana (2008:34,42 dikutip oleh Hapitiawati 2012), partikel dalam bahasa Indonesia tidak membentuk kelas kata tersendiri karena partikel merupakan bentuk-bentuk kata yang terbatas kebebasannya dan tidak membentuk  kata dengan unsur yang menyertainya.

Pendapat tersebut didukung oleh Enjel (1988:689 dikutip oleh Hapitiawati 2012) menyatakan bahwa partikel adalah kata-kata yang tidak mengalami perubahan deklinasi. Deklinasi adalah perubahan ke arah yang lebih kecil, lemah, atau rendah (KBBI: https://kbbi.web.id/deklinasi).

Dengan demikian, jelas bahwa partikel dalam bahasa Nias memiliki kaitan penggunaannya sesuai dengan Tata Bahasa Indonesia di mana kata-kata tersebut tidak dapat lagi mengalami perubahan ke bentuk yang lebih kecil dan juga tidak menimbulkan kata baru pada unsur yang menyertainya. Seperti contoh partikel nah, deh, ya, kan, dll., dalam bahasa Indonesia. 

Demikian pula halnya dengan kata 'bale' dan 'wö' yang terdapat dalam Li Niha. Partikel 'bale' dan 'wö' memiliki terjemahan dalam bahasa Indonesia yaitu: '-lah' dan bisa juga berarti: 'kan/lho' ; yang mana bale berpotensi untuk memberikan kehalusan makna pengucapan dalam kalimat atau dianggap lebih sopan.

Sedangkan 'wö' bisa memberikan kehalusan serta ketegasan pernyataan sesuai dengan penggunaannya dalam kalimat.  Selain itu, meskipun kata partikel 'bale' dan 'wö' dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, terkadang pula muatannya dalam kalimat tidak perlu diterjemahkan karena hanya berfungsi sebagai penegas/ pelembut tuturan bahasa lisan saja.


Selain itu, cara penulisan artikel 'bale' dan 'wö' dalam Li Niha, keduanya ditulis secara terpisah tanpa harus dilekatkan pada unsur/kata lain yang menyertainya dalam suatu kalimat.


Sebelum melanjutkan penjelasan ini, penulis ingin memberikan pencerahan bahwa kata 'bale' dalam Li Niha (bahasa Nias) memiliki dua terjemahan dalam bahasa Indonesia, yaitu bale (pekan) dan bale (-lah).

Pekan yang penulis maksud dalam artikel ini bukan 'pekan' dengan arti waktu/minggu, tetapi dalam pengertian 'pasar' seperti dilansir dalam KBBI (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pekan). Hal ini penulis jelaskan supaya pembaca artikel ini tidak salah paham dengan kata yang dimaksudkan.



Pada dasarnya, orang Nias sering menggunakan kata partikel 'bale' dan 'wö' tersebut dalam percakapan sehari-hari dan membuat bahasa Nias terdengar menarik dan lebih sopan.

Tidak hanya orang Nias yang menggunakan partikel tersebut, bahkan  penutur  bahasa Nias seperti Etnis Tionghoa yang lama berdomisili di pulau Nias, dalam hal ini di Telukdalam yang pernah diteliti oleh Rebecca Evelyn Laiya pada tahun 2012. 

Di halaman 7 dalam riset atau penelitiannya membuktikan adanya dialog penggunaan kata bale dan wö dalam komunikasi bahasa Nias sehari-hari.


Berikut cara penggunaan partikel 'Bale' dalam bahasa Nias, antara lain:
1. Digunakan pada kalimat larangan. Contoh: Böi bale (janganlah)
2. Digunakan untuk kalimat perintah sebagai penegas. 
    Contoh: Heta geu da'a bale (lepaskan kayu ini lah)
3. Digunakan untuk kalimat permintaan (lebih sopan). 
    Contoh: Be'e ögu kofi ma'ifu bale (Berikanlah aku kopinya sedikit)
4. Digunakan pada kalimat perintah sebagai penyaranan. Contoh: Be'e bale (berikanlah)
5. Kalimat ungkapan emosi (marah, heran/kagum). Contoh: hadia da'a bale? (apaan ini?)



Sedangkan untuk partikel '' dapat digunakan dalam kalimat seperti berikut:

1. Digunakan pada kalimat negatif atau sangkalan untuk menyampaikan pesan. Contoh: Tenga ya'ugö nikaonigu mege,angawuli manö wö. (Bukan kamu ini tadi yang kupanggil, pulang sajalah)
2. Digunakan pada kalimat larangan. Contoh: Böi wö (janganlah)
3. Digunakan pada kalimat dengan tujuan menuntut.  Contoh: Ya'ugö zangalui masa'ala wö. (Kamu yang membuat masalah ini,lho.)

Masih banyak lagi contoh lain yang dapat dimuat dengan menggunakan partikel tersebut. Tetapi, setidaknya, artikel tentang partikel ini sudah mewakili sejumlah pengertian dan penjelasan yang lebih sederhana yang dapat dipahami oleh pembaca  dengan mudah. 
Terima kasih, 

***


Referensi:

Hapitiawati,  T. 2012. Analisis Penerjemahan Partikel Fatis Bahasa Jerman Ja dalam Novel Anak "Emil Und Die Detective" Karya ERICH KÄSTNER ke dalam "Emil dan polisi-polisi rahasia": Sebuah Analisis Pragmatis. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia: Depok,  http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20297459-S1888-Tiya%20Hapitiawati.pdf, diakses pada tanggal 03 Maret 2019.

KBBI, 2012. Diakses pada tanggal 3 maret 2019 melalui https://kbbi.web.id/deklinasi

KBBI Daring. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Kamus versi online/daring (dalam jaringan). Diakses pada tanggal 3 maret 2019 melalui https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pekan

Laiya, Rebecca Evelyn. 2012. BAHASA ETNIS TIONGHOA DI TELUK DALAM, NIAS SELATAN. Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta, https://www.academia.edu/22323902/BAHASA_ETNIS_TIONGHOA_DI_TELUK_DALAM_NIAS_SELATAN,[pdf], diakses pada tanggal 03 Maret 2019.

No comments for "Kata 'Bale' Sering Dituturkan Orang Nias dalam Percakapan"

Covid-19

covid