Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Amaedola Li Niha



Amaedola Li Niha memiliki terjemahan dalam bahasa Indonesia sebagai Peribahasa Nias. Amaedola ini sering digunakan dalam komunikasi pragmatis oleh orang-orang Nias dalam menyampaikan pesan kepada orang lain.


Dalam bahasa Nias, terdapat banyak amaedola yang sudah digunakan sejak zaman kuno oleh para leluhur orang Nias dan hingga sekarang ini (tahun 2019) masih digunakan dalam konteks komunikasi tertentu meskipun sudah banyak masyarakat Ono Niha (orang Nias) yang tidak kenal dengan peribahasa leluhurnya sendiri.



Oleh karena itu, pelestarian Amaedola Li Niha dianggap perlu untuk dilakukan, sehingga penulis pada tahun 2011 pernah mendokumentasikan hasil wawancara kepada seorang pribumi Nias sebagai narasumber yang dikenal dengan nama A. Wati Halawa alias Jamaludin Halawa yang berdomisili di Jl. Diponegoro, desa Miga, Kota Gunungsitoli. 

Dengan segenap ucapan terima kasih kepada narasumber, penulis tetap mengikut-sertakan identitasnya pada amaedola ini. Penulis merangkum beberapa hasil interview atau wawancara yang dapat menjadi salah satu pedoman generasi berikutnya dalam mempelajari dan melestarikan bahasa Nias sebagai bagian dari kekayaan adat Nias.



Berikut Amedola Li Niha, antara lain:


  1. Hulö zogohi boro'e, fatambu nigohi ba fatambu zogohi. =Baik yang kalah maupun yang menang, sama-sama menanggung akibat/ resiko.
  2. Hulö mbaeŵa ba dete gahe, u'eŵa göi ba ahegu tou, ba lö göi u'eŵa ba ahulua = Keragu-raguan dalam mengambil suatu keputusan dalam sesuatu hal, karena telah diselimuti oleh berbagai pertimbangan.
  3. Hulö zigi sitoba'a lela = Seseorang yang tidak berani mengungkapkan sesuatu.
  4. Wura-wura si lö motutu bu'u, mangawuli khögu hanu-hanu = Semua apa yang telah diucapkan/ diperbuat oleh seseorang akan dirasakannya sendiri akibatnya.
  5. Alölö nafo na no munganga, ahori gö na no mu'a, awai zi lö mondröi zi lö taya ha taromali si sambua = Berbuat baik kepada seseorang merupakan mahkota yang agung dalam hidup.
  6. Hulö la'eŵa nidanö ba ifuli fahalö-halö = Rasa kepersaudaraan itu sangat kuat dan susah untuk dipecahbelahkan meskipun banyak hal yang merupakan tantangan di antara kehidupan orang yang bersaudara.
  7. Hulö latunu go'o ba dumöri samösa zamaböli, felendrua zanöri-nöri = Apa bila ada suatu pertikaian/pertengkaran/ masalah di antara dua pihak, maka dari keseluruhan jumlah pihak ketiga yang datang, hanya satu orang yang hendak memberikan solusi; yang lainnya  memanas-manaskan situasi.
  8. Mu'ogöri mbalugu böi söbi, foriti-riti manö.= Menakut-nakutkan seseorang dengan maksud tak sungguhan.
  9. Sökhi wame'e sökhi wanou'ö, awai zi mörö zi mate =  Keputusan yang baik dan benar akan selalu diakui dan diindahkan.
  10. Solalau niasa, solalau tufo, ha elungu ba mböröta ba elungu ba hogu. = Pikirkanlah lebih dulu apa yang hendak kamu lakukan sebelum melakukan sesuatu hal, supaya kamu tidak meraba-raba lagi apa yang semestinya anda perbuat kemudian. (Juga: Turutilah peraturan supaya kamu tak mendapat banyak masalah di kemudian hari).
  11. Hulö geu safatö hogu = Seseorang yang tak punya semangat dan atau harapan dalam hidupnya.
  12. Akha mate mbaeŵa, si radi nawö = Meskipun semuanya habis untuk sesuatu hal, namun apabila hasilnya setimpal dengan hal itu, maka itupun tidak akan dikatakan  "merugikan".
  13. Kauko ba hili kauko ba ndraso, faolo ndra'ugö ba ufaolo göi ndra'o, faoma ita fao-fao. = Mari kita saling menghargai (pendapat) sesama supaya suatu permasalahan dapat terselesaikan dengan kesepakatan bersama dan adil.
  14. Böi auko dödö dalimbo ba bõi obu'u dödö landröta. = Hargailah perasaannya, sudah tahu dia sedang susah (sedih), tak usah lagi menambah beban pemikirannya.
  15. Si manga howu hao, inganga-nganga bawa ba irongo talinga. = Sesungguhnya orang itu sudah tahu, namun masih mau lagi menanyakan hal itu. (dah tau, tapi masih kepingin nanya terus)
  16. Nifo'awi-awi lahagu, no i'orodugö hogu fabaya mbörö ba ifabaya-baya'ö khögu dalu. = Orang yang munafik (penipu), selalu berkata manis, sok sopan dan berlagak jujur namun semuanya itu adalah omong kosong.
  17. No te'io mbai helua ba no te'io mbai mbõgi = Seseorang yang suka mengatakan hal-hal yang kurang baik kepada orang lain.
  18. Idanö ba nasoa ba idanö ba sere. Hana na olotu ba na so gere ba ohahau =  Meskipun suasana tidak menyenangkan atau kacau ketika ada masalah, tetapi bila orang yang ditakuti/disegani datang , maka semuanya akan tenang dan kembali seperti semula. 
  19. Mana hili na lakhao ba ahori, mendrua manö ö ni'a ma'ökhö.  = Jangan hanya tergantung pada harta yang sudah dimiliki, karena suatu waktu itu juga bisa habis bila hanya diam dan menunggu tanpa berkerja atau berusaha. 
  20. So doho, dozi bu'u hili so nono laosi = Bila ada uang, maka keinginan dapat tercapai dengan mudah (Juga bisa dikatakan: Ada uang, abang sayang...huhuii..)
  21. Böi fagokhö na lö bago = Tak perlu banyak omongan/pembicaraan bila tak pernah ada bukti nyatanya.
  22. Famuwusi dögi lösu = Bekerja keras (banting tulang)
  23. Bõi fabu'u aya ndraono laŵere, faŵere-ŵere dania = Tak usah berjanji kalau tak mampu ditepati, karena janji adalah hutang. 
  24. Gofu hezoso mõi lõsu ba igo'õ-go'õ ia uliho = Sifat dan perilaku itu akan selalu dibawa-bawa kemanapun perginya.
  25. Hulö lataŵi mboro'e, ebua högö moroi ba gi'o = Lebih baik menyelesaikan masalah secara kekeluargaan daripada menunggu pihak yang berwajib untuk bertindak/ menyelesaikannya.


Beberapa amaedola yang telah uraikan di atas merupakan bahasa yang masih digunakan oleh penutur asli bahasa Nias meskipun penggunaannya sekarang ini terbatas. 

Jika seseorang mengatakan amaedola ini (proverb) seperti Hulö zogohi boro'e, fatambu nigohi ba fatambu zogohi. Itu bisa saja merupakan suatu perumpamaan untuk memberikan nasihat atau teguran kepada seseorang yang mana kedua pihak sama-sama menganggap dirinya benar dan bertahan.


Contoh lainnya adalah jika A sedang bermasalah dengan B, di mana A dianggap salah oleh B; sebaliknya. Anggaplah si A telah melakukan sesuatu kepada B, dan B menganggap A adalah pihak yang salah sehingga terjadi masalah. 

Sedangkan A justru merasa dirinya benar dan yang salah baginya adalah B. Jika selanjutnya si B melaporkan A, tentunya B akan mengeluarkan biaya untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Demikian pula dengan si A yang terlapor dalam masalah ke pihak yang berwajib akan mengeluarkan biaya dalam perkara tersebut. Itulah yang dimaksud dari pada peribahasa tersebut di atas.



Selain itu, penulis juga ingin memberikan satu contoh lain lagi yaitu tentang Hulö lataŵi mboro'e, ebua högö moroi ba gi'o. Peribahasa ini bermakna lebih baik menyelesaikan masalah secara kekeluargaan daripada menunggu pihak yang berwajib untuk bertindak/ menyelesaikannya. 

Hal ini memang sangat jelas maksud daripada peribahasa tersebut. Inilah suatu anjuran atau tawaran yang biasanya diajukan kepada seseorang yang dianggap tidak perlu memperkeruh suasana dalam suatu masalah. 



Maksud dari peribahasa tersebut setidaknya memberikan kesan moral akan pentingnya penyelesaian masalah secara kekeluargaan karena itu tidak membutuhkan biaya yang cukup besar termasuk waktu yang ditempuh dalam menyelesaikan suatu masalah. Namun demikian, peribahasa tersebut bukanlah suatu paksaan, hanya sebagai anjuran kepada kedua belah pihak yang sedang bertikai atau bermasalah jika memungkinkan.

Untuk memahami lebih banyak tentang amaedola, silakan baca  Kumpulan Peribahasa Nias.

Dengan demikian, contoh di atas mempermudah anda memahami konteks di mana peribahasa tersebut berlaku. Apabila artikel ini bermanfaat, silakan bagikan kepada teman anda yang lain. Terima kasih.

Post a Comment for "Amaedola Li Niha"

Berlangganan via Email